Ketiga
Membangun lingkaran pertemanan yang positif selama berhaji sangat dianjurkan. Berinteraksilah dengan individu yang dapat memberikan manfaat ilmu maupun adab. Al-Qur’an dan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berulang kali menekankan urgensi memilih teman yang baik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang saleh dan orang yang jelek bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu. Engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat wanginya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari no. 2101 dan Muslim no. 2628).
Keempat
Persiapan bekal harta yang cukup selama menunaikan ibadah haji adalah suatu keharusan. Dengan kemandirian finansial, seseorang terhindar dari meminta-minta kepada sesama. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Dan barangsiapa yang menahan (menjaga diri dari meminta-minta), maka Allah akan menjaganya dan barangsiapa yang meminta kecukupan, maka Allah akan mencukupkannya.” (HR. Bukhari no. 1469 dan Muslim no. 1053).
Kelima
Menghiasi diri dengan akhlak mulia dan berinteraksi dengan sesama secara santun merupakan cerminan seorang muslim sejati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Bertakwalah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala di mana pun engkau berada. Iringilah kejelekan itu dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya (kejelekan). Dan pergaulilah manusia dengan pergaulan yang baik.” (HR. Tirmidzi no. 1847 dan Ahmad no. 21392).
Pergaulan yang baik berarti memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.
Keenam
Menyibukkan diri dengan zikir, doa, dan istigfar, serta menjaga lisan dari perkataan buruk dan memanfaatkan waktu untuk aktivitas yang bermanfaat di dunia dan akhirat adalah amalan utama. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan,
“Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau hendaklah ia diam.” (HR. Bukhari 1 no. 6018 dan Muslim no.47).
Beliau juga bersabda,
“Dua kenikmatan yang kebanyakan manusia tertipu dengannya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari no. 6412).
Ketujuh
Menjauhi segala bentuk gangguan terhadap sesama, baik melalui ucapan maupun tindakan, adalah prinsip fundamental dalam Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Seorang muslim (yang sempurna Islamnya) ialah (apabila) seseorang muslim (yang lain) selamat dari (keburukan) lidahnya dan tangannya.” (HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 40).
Salah satu contoh perbuatan mengganggu yang wajib dihindari adalah merokok. Bahkan, meninggalkannya adalah sebuah kewajiban dan hendaknya bertobat dari perbuatan tersebut karena bahayanya bagi kesehatan diri dan orang sekitar, serta merupakan pemborosan harta.
Seluruh adab dan catatan penting ini seyogianya diperhatikan dan diamalkan oleh setiap muslim dalam setiap kesempatan. Namun, penekanannya menjadi lebih kuat ketika seseorang sedang dalam perjalanan dan menunaikan ibadah haji maupun umrah.
Wallahu a’lam bisshawab.

